Pages

Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Thursday, October 11, 2012

Meneropong Islamofobia dengan Bijak III


Oleh: Arief Assofi


Sikap yang Seharusnya dikedepankan oleh Umat Islam


Ketika ditanya tentang perasaannya saat muncul film ini, Habib Ali mengatakan, “Yang ada  saya ketika film ini muncul adalah, jika Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali RA masih hidup sekarang, apa yang akan mereka lakukan?”

Habib Ali mengingatkan seluruh umat Islam agar mengingat kembali apakah hakikat pengutusan Rasulullah SAW? Hakikat pengutusan Rasulullah SAW adalah sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan hanya rahmat bagi orang Muslim, dan juga bukan hanya rahmat bagi orang-orang baik. Tetapi Islam adalah rahmat bagi semesta alam, termasuk mukmin dan kafir; orang baik dan jahat; makhluk hidup dan mati, karena alam selalu didefinisikan oleh para ulama sebagai segala sesuatu yang wujud selain Allah. Oleh sebab itu, sikap kita harus mencerminkan sifat rahmat tersebut.

Sebagaimana telah jamak diketahui, Rasulullah SAW semasa hidupnya mengalami berbagai macam serangan kebencian. Namun perlu diperhatikan bahwa sikap beliau SAW tidak sama pada setiap peristiwa. Meskipun demikian, keseluruhannya merupakan manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Bagaimanakah sikap kita seharusnya?

Al-Quran dan Hadis merupakan sumber hukum dalam Islam. Keduanya merupakan pedoman hidup setiap Muslim. Ketika ingin bertindak, seorang Muslim seharusnya melihat dahulu apa yang al-Quran dan Sunah ajarkan. Dalam menghadapi serangan kebencian, al-Quran dan Sunah pun sudah memberikan manhaj yang sahih dalam bersikap.

Mufti Bosnia, Musthafa Ceric, mengingatkan bahwa Allah SWT telah mengajarkan kita untuk membalas dengan cara terbaik:

و لا تستوى الحسنة و لا السيئة، ادفع بالتى هى أحسن، فإذا الذي بينك و بينه  عداوة كأنه ولى حميم (فصلت: 
34) 

34. dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Dr. Usamah, seorang dosen fakultas hadis di Universitas al-Azhar, mengajak umat Islam untuk mentadabburi surat al-Anfal. Jika kita mentadabburinya, seakan-akan al-Quran sedang membicarakan peristiwa yang saat ini sedang terjadi. Allah SWT berfirman dalam surat al-Anfal:

و إذ يمكر بك الذين كفروا ليثبتوك أو يقتلوك أو يخرجوك و يمكرون و يمكر الله و الله خير الماكرين. و إذا تتلى عليهم ءاياتنا قالوا قد سمعنا لو نشاء لقلنا مثل هذا إن هذا إلا أساطير الأولين. و إذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم (الأنفال: 30-32)

30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

31. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menghendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".

32. Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, adalah benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih".

Ayat pertama dari ketiga ayat di atas, mengisyaratkan serangan kebencian terhadap Rasulullah SAW. Ayat kedua, menggambarkan sikap orang-orang kafir yang melecehkan wahyu. Sedangkan pada ayat ketiga, mereka melecehkan Allah SWT, dengan menantang-Nya untuk menurunkan adzab. Dari sini dapat kita lihat bahwa pelecehan, penghinaan, atau serangan kebencian terhadap simbol-simbol sakral sudah terjadi sejak awal munculnya Islam dan al-Quran pun merekamnya.

Setelah tiga ayat di atas, ayat selanjutnya memaparkan hakekat keadaan orang-orang kafir tersebut. Kemudian diikuti dengan perintah untuk memerangi mereka, ketika tindakan mereka itu menimbulkan fitnah, lalu dilanjutkan dengan menjelaskan sistem pembagian harta rampasan perang, jika terjadi peperangan.

Hingga QS. Al-Anfal: 45, al-Quran mulai menjelaskan bagaimana sikap umat Islam seharusnya dalam menghadapi serangan kebencian ini. Allah SWT berfirman:

يا أيها الذين ءامنوا إذا لقيتم فئة فاثبتوا و اذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون. و أطيعوا الله و رسوله ولا تنازعوا فتفشلوا و تذهب ريحكم، و اصبروا، إن الله مع الصابرين. و لا تكونوا كالذين خرجوا من ديارهم بطرا و رئاء الناس و يصدون عن سبيل الله، و الله بما يعملون محيط (الأنفال:45-47) 

45. Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung.

46. dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

47. dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

[620] Maksudnya ialah: memperbanyak zikir dan doa.

Dr. Usamah lebih lanjut menjelaskan bahwa tiga ayat di atas mengisyaratkan 6 langkah yang harus umat Islam lakukan ketika terjadi serangan kebencian. Allah SWT berfirman: “Wa Idzâ laqîtum fi`atan” yaitu apabila kalian, umat Islam, bertemu dengan sekelompok orang yang melakukan serangan kebencian, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah “Fatsbutû!”  berteguh hatilah, dengan menahan amarah, yang akan membuat sikap kita tidak terkontrol, atau  tahanlah diri kalian untuk melakukan tindakan dalam keadaan tidak dapat berpikir jernih, sehingga salah dalam bertindak.
Langkah yang kedua, “wa-dzkurû Allah katsîran la’allakum tuflihûn”. Sebarkanlah sifat rabbaniyah dalam masyarakat, dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sembari mencari ilham di balik maqâshid syari’ah dalam merespon serangan ini.

Langkah ketiga, “wa athî’u Allah wa al-rasûl”. Menghentikan semua tindakan yang bertentangan dengan syariat. Keempat, “wa lâ tanâza’u fa tafsyalû wa tadzhaba rihukum”. Jangan berpecah belah dan saling menyalahkan. Kelima, “wa-shbirû! Inna Allah ma’a al-shâbirîn”. Bersabarlah! Semua ini membutuhkan kesabaran. 

Dan yang keenam, “wa lâ takûnû kal-ladzîna kharajû min diyârihim batharan wa ri`â`a al-nâs”. Janganlah terpengaruh dengan cara mereka membenci kita, Dengan menyerang orang-orang yang tidak berdosa dengan niat sombong, atau ingin menunjukkan kekuatan. Karena hal itu bukanlah akhlaq seorang muslim.

Selain al-Quran, dalam Sunah Rasulullah SAW telah memberikan berbagai contoh dalam merespon serangan kebencian. Rasulullah SAW adalah orang yang paling banyak mendapat serangan kebencian dari Ahli Kitab maupun kafir Quraisy. Dengan berbagai macam serangan kebencian tersebut, Rasulullah SAW mempunyai sikap yang berbeda pada setiap peristiwa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah, para kafir Quraisy seringkali menghina dan melaknat Rasulullah SAW dengan menjulukinya sebagai mudzammam (yang dicela-cela). Geram dengan perbuatan mereka, para Sahabat pun protes atas sikap Nabi SAW yang acuh, dan para Sahabat sangat ingin membalas. Namun beliau menjawab, “Apakah kalian tidak kagum bagaimana Allah menghindarkanku dari celaan dan laknat mereka? Sesungguhnya mereka mencela dan melaknat mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad (yang dipuji-puji).” Pada peristiwa ini, Rasulullah SAW mengacuhkan hinaan mereka.

Di kesempatan lain, Beliau SAW menjawab seperlunya hinaan tersebut. Diriwayatkan dalam Musnad al-Humaidy dari Aisyah RA, suatu hari datang beberapa orang Yahudi kepada Rasulullah SAW sambil mengucapkan, “al-Sâmu ‘alaika ya Aba al-Qâsim! (Semoga kematian menimpamu, wahai Abu Qasim!).” beliau pun dengan tenang menjawab “wa ‘alaikum" (dan semoga bagimu juga demikian).” Aisyah RA yang ketika itu berada di samping beliau SAW, tidak terima dengan hal itu, ia pun menjawab “wa ‘alaika al-sâm wa al-la’nah" (dan semoga kau teracuni dan terlaknat).” Tidak setuju dengan respon Aisyah RA, Rasulullah SAW menegurnya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal.” Heran dengan sikap Rasulullah SAW, Aisyah RA pun berkata, “Apakah engkau tak mendengar apa yang mereka katakan, wahai Rasulullah? Mereka mengatakan ‘semoga kau teracuni’” Rasulullah SAW menjawab, “Dan aku sudah menjawab ‘dan semoga bagimu juga demikian’” . mengomentari hadis ini, Dr. Usamah mengatakan, di sini Rasulullah SAW ingin menunjukkan, bahwa Beliau SAW menyadari apa yang mereka katakan, dan mampu untuk menjawabnya.

Dalam Mu’jam Kabir karya Thabrani, diriwayatkan kisah masuk Islamnya Zaid bin Su’nah, yang diriwayatkan oleh Zaid sendiri. Zaid bin Su’ah adalah salah satu ulama Yahudi saat itu. Suatu hari ia melihat seorang badui mengendarai keledai datang kepada Rasulullah SAW melaporkan keadaan kaumnya, ia mengajak kaumnya untuk masuk Islam dengan menjanjikan kepada mereka, bahwa mereka terselamatkan dari kafakiran. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, kaumnya terkena kafakiran. Akhirnya, orang badui itu takut jika Nabi SAW tidak segera menolong mereka, mereka akan keluar dari Islam karena tamak, sebagaimana mereka masuk islam karena tamak. Mendengar ini, Zaid pun mendatangi Rasulullah SAW, menawarkan untuk meminjamkan uang kepada Rasulullah SAW, untuk membantu kaum badui tersebut. Dengan jaminan beberapa karung kurma dan dalam batas waktu tertentu. Karena terpaksa, Nabi SAW pun menerimanya.

Dua hari sebelum waktu pembayaran, Zaid mendatangi Nabi SAW dihadapan para sahabatnya. Ia datang, dan tiba-tiba menarik kerah baju Rasulullah SAW sembari berkata, “Kembalikan hak ku, hai Muhammad!” lalu menghina Nabi SAW dan kabilahnya. Zaid kemudian melirik ke arah Umar RA, ia melihat di wajah Umar RA kemarahan yang tak tertahankan. Umar berakata, “Wahai musuh Allah, bagaimana kau melakukan hal ini kepada Rasulullah SAW? Demi Allah, Jika bukan karena segan dengan orang yang dihadapanmu, maka aku telah memenggal kepalamu.” Lalu Nabi SAW melihat kepada Umar dengan tenang dan tersenyum berkata, “Wahai Umar, aku dan dia lebih membutuhkan dari selain itu. Tidakkah kau menyuruhku untuk membayar hutangnya dengan baik dan menyuruhnya untuk meminta haknya dengan baik pula? Pergilah wahai Umar dengannya! Bayarlah hutangnya dan tambahkan baginya 2 sha’ kurma.” Pada peristiwa ini beliau SAW merespon kebencian dengan kebaikan.

Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghukum orang yang mencelanya dengan membunuhnya, Ka’b bin Asyraf. Mengomentari hadis ini, Habib Ali mengatakan, bahwa yang memperhatikan sejarah akan mengetahui, sesungguhnya Ka’b telah menghina Nabi SAW sejak lama, dan nabi membiarkannya. Hanya saja saat itu ia menghina Nabi SAW dan mulai bergerak mengumpulkan pasukan untuk mengadakan penyerangan. Komentar ini sesuai dengan yang diisyaratkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. Sikap Nabi SAW di sini masih tetap menunjukkan ke-rahamatan lil ‘alamin-annya. Karena jika Rasulullah SAW membiarkannya dan terjadi peperangan, maka akan memakan banyak korban. Ini sesuai dengan kaedah irtikâb akhaffu al-dhararain (melakukan bahaya terkecil).

Imam Muslim dan Nasa`i meriwayatkan, bahwa beliau memnyuruh Ibnu Rawahah dan Hassan bin Tsabit untuk membalasnya. Sebagaimana yang terjadi, ketika orang-orang kafir Quraisy bersyair menghina Rasulullah SAW. Habib Ali mengatakan, bahwa syi’ir pada zaman itu bagaikan stasiun  televisi pada zaman sekarang. Penghinaan yang ditujukan kepada Rasulullah SAW disini, dapat merusak reputasi dakwahnya. Maka diperlukan adanya counter untuk mencegah hal itu.

Dengan demikian, Rasulullah SAW tidak pernah menggenalisir sikapnya dalam menghadapi serangan kebencian. Semuanya beliau SAW hadapi sesuai dengan maslahat dan kebutuhan. Perbedaan sikap ini mengajak kita untuk jeli melihat sebab di balik setiap sikap. Rasulullah SAW acuh, ketika hinaan itu tidak ada pengaruh bagi dirinya dan dakwahnya. Rasulullah SAW menjawab secukupnya, ketika ingin menunjukkan bahwa beliau SAW menyadari apa yang mereka katakan dan mampu untuk menjawabnya. Rasulullah SAW membalas serangan kebencian itu dengan sentuhan cinta, ketika hal itu dapat menggerakkan hati mereka. Rasulullah SAW menghukum, ketika hinaan ini menyebabkan kepada banyaknya korban yang akan berjatuhan. Rasulullah SAW me-counter untuk menghindari pencemaran nama baik.

Mufti Bosnia, Musthafa Ceric,  juga menghimbau, agar umat Islam tidak melupakan asal dari kata iman, Islam, dan ihsan dalam hadis Jibril. Islam adalah agama penebar “al-amn” atau rasa aman, yaitu manifestasi dari kata “iman”. Islam mencintai “al-salâm” atau perdamaian, sebagai manifestasi dari kata “Islam”. Islam senantiasa menyebarkan “al-hasan” atau kebaikan, sebagai manifestasi dari kata “ihsan”. Jika makna dari 3 kata ini tidak termanifestasikan dalam sikap umat Islam, maka secara tidak langsung, umat Islam telah mendustakan ajaran agamanya sendiri.

Dari peristiwa ini, hikmah yang dapat kita ambil adalah, bahwa konsistensi serangan kebencian ini menambah keyakinan kita akan kebenaran agama ini. al-Quran sejak 14 abad yang lalu telah mengabarkan akan adanya konsistensi ini.

Semakin sering Islam dihina, maka akan semakin banyak orang yang ingin tahu hakekat Islam. Inilah yang banyak membawa orang-orang Barat berbondong-bondong masuk Islam.

Peristiwa ini juga mengingatkan kita, agar lebih mengenal Rasulullah SAW, serta lebih gencar dalam mengenalkannya kepada seluruh manusia. Sehingga hinaan-hinaan yang muncul setelahnya, dapat dijawab oleh orang Barat sendiri. Wallahu a’lam.[]

Wednesday, October 10, 2012

Meneropong Islamofobia dengan Bijak II

Oleh: Arief Assofi

Baca sebelumnya, Meneropong Islamofobia dengan Bijak I


Peran Umat Islam dalam Menyulut Isu Islamofobia



Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Kebenaran ajaran Islam, bukan berarti kebenaran semua tindakan pengikutnya. Jika pengikutnya bertindak sesuai ajaran, maka itu benar. Dan jika tidak sesuai ajaran, maka itu salah. Namun fenomena yang nampak di saat ini, umat Islam banyak menutup mata dari kesalahan yang ada pada tubuh umat Islam sendiri.

Habib Ali, dalam setiap pembicaraannya, sangat getol mengajak umat Islam untuk melihat kesalahan sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain, atau yang sering ia sebut dengan “naqd al-dzat” . Terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam. Kesalahan-kesalahan ini, menurutnya,  ikut andil dalam munculnya film ini. Ditambah lagi, kesalahan mereka dalam merespon kemunculan film tersebut.

Salah satu kesalahan umat Islam yang dianggap ikut andil dalam munculnya film ini adalah tindakan beberapa oknum dalam umat  Islam yang radikal. Ketika disalahkan, mereka selalu bersandar pada teks-teks agama yang seakan-akan membenarkan tindakan mereka. Ini akibat dari interpretasi prematur terhadap al-Quran, bahkan tanpa merujuk ke hasil interpretasi para ulama terlebih dahulu.

Selain itu, muncul beberapa orang yang tampil di depan publik berbicara tentang ajaran Islam tanpa ilmu yang memadai. Akibatnya, mereka memberikan pemahaman yang salah terhadap masyarakat. Khairi Ramadhan, presenter acara, “Mumkin” menceritakan pengalamannya, bagaimana ia kaget ketika mendengar seorang yang berlagak syekh, di salah satu stasiun televisi, mengatakan bahwa pernikahan Nabi SAW  dengan sembilan wanita adalah bukti atas kejantanannya. 

Kurangnya umat Islam dalam mengenal Rasulullah SAW dan juga dalam mengenalkannya pada dunia, merupakan kesalahan yang paling tidak disadari oleh umat Islam, sehingga banyak orang yang mengenal Rasulullah SAW dari sumber yang salah.

Salah satu penyebab terbesar dari kesalahan ini semua adalah munculnya oknum-oknum ditengah masyarakat, yang mengenakan jubah ilmu tanpa menyelami lautan ilmu sebelumnya, sehingga pergerakannya akan menimbulkan fitnah yang besar dalam masyarakat. Imam Syaf’i berkata, “Lau sakata man lâ ya’lam, laqalla al-Khilaf” (Jika orang yang tidak mengetahui itu diam, maka hanya akan ada perselisihan). Maka jangan heran jika banyak orang Baratsalah dalam memahami Islam.

Setelah munculnya film tersebut, lagi-lagi banyak  umat Islam yang kurang bijak dalam menyikapi pelecehan tersebut. Sebagaimana yang terjadi di Libya, Mesir, Yaman dan beberapa negara lain, umat Islam menyerang kantor kedutaan Amerika. Bahkan di Libya, sampai menelan 3 korban, salah satunya adalah Dubes AS di negara tersebut. Mengingatkan kesemena-menaan ini, Grand Syekh Azhar, Ahmad Thayyib menghimbau, agar umat Islam tidak menyakiti orang-orang yang tak berdosa atas munculnya film ini.

Di Mesir, seorang tokoh yang menisbatkan dirinya pada paham salaf muncul di televisi dan menyobek-nyobek kitab Injil. Sunah Nabi mana yang mengajarkan demikian? Sikap mereka, seakan-akan membenarkan tuduhan-tuduhan orang kafir. Habib Ali mengatakan, “Ketika para pelukis kartun itu menggambar sosok Nabi dengan bom di atas kepalanya, kemudian setelah itu umat Islam marah dengan melemparkan bom ke kedutaan, seakan-akan mereka mengiyakan tuduhan itu.” Dalam artian, tindakan mereka itu, secara tidak langsung membenarkan isi kartun tersebut.

Baca setelahnya, Meneropong Islamofobia dengan Bijak III

Monday, October 8, 2012

Meneropong Islamofobia dengan Bijak I

Oleh: Arief Assofi

Visualisasi Gerakan Islamofobia
لتبلون في أموالكم و أنفسكم و لتسمعن من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم و من الذين أشركوا أذى كثيرا و إن تصبروا و تتقوا فإن ذالك من عزم الأمور (آل عمران 
186)
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.Jika kamu bersabar dan bertakwa, makasesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186.)
Wajar, jika umat Islam di muka bumi ini sering menghadapi serangan kebencian dari Ahli Kitab dan orang-orang Musyrik. Film keji “Innocence of Muslims” yang baru saja muncul bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya telah muncul berbagai macam penghinaan terhadap simbol-simbol sakralitas dari orang-orang non Muslim. Rasulullah SAW sendiri semasa hidupnya mengalami berbagai celaan dan hinaan dari orang-orang Musyrik dan Ahli Kitab. Mulai dari dicemooh, dituduh sebagai tukang sihir, diludahi, dilempari batu dan kotoran, bahkan berkali-kali terjadi usaha pembunuhan.
Tidak lama sebelum ini, pada tahun 2005, muncul kartun yang menghina Nabi SAW di Denmark. Sebelumnya lagi Buku Ayat-ayat Setan karya Salman Rusdi yang terbit tahun 1989, yang di dalamnya dengan sangat keji menghina Rasulullah SAW dan istri-istri beliau RA. Demikian pula, serangan susulan yang diluncurkan oleh majalah Charlie Hebdo di Perancis dalam bentuk kartun, beberapa hari setelah film Innocence of Moslems muncul.
Mufti Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah, dalam acara “Mumkin” di stasiun televisi CBC Mesir menyampaikan, sejak tahun 1970 sampai sekarang, ada 1700 serangan kebencian terhadap Islam di London. Ini menunjukkan bahwa serangan ini terus-terusan terjadi dan tidak akan pernah berhenti.
Bukanlah suatu hal yang aneh jika penghinaan-penghinaan ini memicu kemarahan umat Islam. Bagaimana tidak? Ketika orang tua kita dihina pun kita akan marah. Apalagi jika yang dilecehkan adalah orang yang lebih kita cintai dari orang tua dan diri kita sendiri. Habib Ali al-Jufri, seorang dai Muslim yang cukup tenar di Timur Tengah, mengatakan bahwa kemarahan inilah bentuk rasa cinta kita.
Namun terjadi kesalahpahaman yang dianut oleh sebagian umat Islam dalam mempraktikkan kemarahan ini. Marah merupakan kondisi seseorang hampir kehilangan akalnya. Karena itulah, dalam hukum Islam, seorang hakim tidak diperbolehkan mengeluarkan keputusan dalam keadaan marah. Tetapi yang perlu diingat di sini, marah tidak melulu berhubungan dengan bentrok fisik atau perbuatan yang merusak. Lantas, bagaimana cara marah yang benar? Sebelum membicarakan sikap yang harus dikedepankan oleh seorang Muslim dalam menghadapi fenomena ini, perlu kiranya untuk melihat kembali permasalahan ini dengan kacamata obyektif, sehingga tindakan kita dalam merespon fenomena ini sesuai dengan ruh Islam.
Menurut Habib Ali, dai yang masih merupakan keturunan Rasulullah SAW ini, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi kejadian ini. Habib Ali menyoroti faktor-faktor tersebut dari beberapa segi: filosofis, kultural, dan sosiologis. Dari segi filosofis, terdapat perbedaan perspektif dalam memandang kebebasan mengutarakan pendapat. Di mata Barat, kebebasan mengutarakan pendapat lepas tanpa batas, sehingga mereka dengan entengnya dapat mengutarakan pendapat yang menyentuh ranah-ranah sakral, tanpa memperdulikan norma-norma yang ada. Sedangkan Islam, membatasi kebebasan ini, meskipun pembatasan ini tidak menghalangi untuk kritis, selama tidak ada unsur penghinaan atau pelecehan.
Di sisi lain, juga terdapat perbedaan kultur. Ketika terjadi perbedaan kultur dalam ekosistem manusia, hanya ada 3 kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, usaha penyatuan kultur; Kedua, saling menghormati perbedaan yang ada dan menjadikan persamaan dibeberapa sisi sebagai pemersatu; Ketiga, saling menyalahkan atau menyerang.
Ironisnya, selama ini implementasinya hanya pada dua, yaitu penyatuan kultur dan saling menyalahkan atau menyerang. Sejak lama, Barat selalu berusaha menyatukan kultur seluruh umat se-Dunia yang saat ini dikenal dengan hegemoninya. Ini merupakan hal yang mustahil, karena masing-masing golongan mempunyai ideologi yang berbeda. Mau tidak mau, untuk menyatukan kultur harus menyatukan ideologi terlebih dahulu. Ketika ideologi mereka tidak sejalan dengan Islam, maka yang terjadi adalah perang ideologi. Maka dari itu, tidak heran jika Barat seringkali menyalahkan tindakan-tindakan umat Islam dengan dalih hak asasi, manusiawi, demokrasi dan lain-lain.
Dari segi sosiologis, terdapat banyak permasalahan yang menumpuk, khususnya di tubuh umat Islam. Di tubuh Barat, terdapat perseteruan antara kaum atheis dan religius. Perseteruan ini sangat erat hubungannya dengan seruan para aktifis ateis untuk tidak mudah disetir oleh gereja. Menurut Habib Ali, inilah akar dari munculnya jargon kebebasan berpendapat di kemudian hari.
Habib Ali memberikan contoh kejadian penerbitan kartun yang menggambarkan sosok Rasulullah SAW di Denmark. Pada hari pertama, kartun tersebut hanya diterbitkan oleh satu surat kabar. Surat kabar lainnya menolak untuk hal itu. Namun setelah mereka mendengar adanya sekelompok orang yang berusaha untuk membunuh para pelukis kartun tersebut, dengan serentak 17 surat kabar keesokan harinya ikut andil dalam menerbitkan kartun itu. Sebab, hal ini bagi mereka bertentangan dengan jargon kebebasan berpendapat.
Di lain sisi, umat Islam sendiri sudah dibuat lelah dan penat dengan permasalahan ekonomi dan politik yang ada di negara mereka. Sehingga ketika emosi mereka disulut, maka semua orang yang sudah lama memendam emosinya, menemukan keadaan yang tepat untuk meluapkannya.
Konsistensi wujud serangan kebencian ini, menurut Dr. Ali Jum’ah mengisyaratkan adanya balon-balon percobaan yang diluncurkan oleh Barat. Dr. Ali Jum’ah menilai, nampaknya Barat ingin melihat kekuatan umat Islam. Ketika umat Islam merespon dengan melanggar norma-norma yang ada, ini jadi kesempatan mereka untuk menyalahkan dan menjatuhkan Islam. Tetapi untungnya, peristiwa tersebut tidak mengurangi jumlah populasi umat Islam, melainkan menambahnya. Sebab, kontroversi tersebut meletakkan Islam dalam sorotan dunia, sehingga mengundang rasa ingin tahu siapa saja, terutama mereka yang selama ini apatis, untuk mengenal Islam lebih dalam.

Baca setelahnya, Meneropong Islamofobia dengan Bijak II dan III

Wednesday, October 3, 2012

Islamofobia dan Tantangan Dakwah


Oleh: Ahmad Sadzali

Istilah islamofobia merujuk pada suatu ketakutan atau sikap anti terhadap Islam. Istilah ini sebenarnya sudah cukup lama muncul. Menurut Dr. Abduljalil Sajid, Chairman Muslim Council for Religious and Racial Harmony UK, istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1991 dan didefinisikan oleh Runnymede Trust pada tahun 1997 dalam laporannya yang bertajuk “Islamophobia is a challenge to us all”. Sedangkan menurut Sekjen PBB tahun 1997-2006, Kofi Annan, istilah islamofobia sudah ada sejak akhir tahun 1980an dan awal tahun 1990an. Namun istilah ini semakin populer setelah peristiwa konspirasi 11 September 2001. Sejak peristiwa WTC itu, citra Islam menjadi negatif yang digambarkan sebagai agama teroris dan radikal di mata dunia internasional.

Baroness Sayeeda Warsi, seorang pengacara dan politikus Muslimah Inggris mengatakan dalam kuliahnya di Universitas Leicester Sir Sigmund Sternberg, ”For far too many people, Islamophobia is seen as a legitimate –even commendable– thing. You could even say that Islamophobia has now passed the dinner table test.” Islamofobia ternyata sudah sangat menjamur, lumrah dan bahkan terpuji di tengah masyarakat Barat. Pembicaraan yang menjurus kepada Islamofobia telah menjadi perbincangan ringan.

Sebagai contoh pernyataan kontroversial Paus Benekditus XVI dalam kuliahnya di Universitas Regensburg, Jerman pada tanggal 12 Setember 2006. Ia menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan kekerasan oleh Nabi Muhammad. Bahkan Paus menganggap bahwa yang disebarkan Nabi Muhammad hanyalah kejahatan dan ketidakmanusiawian. Dalam terjemahan versi Inggris yang diterbitkan Vatikan, Paus mengatakan, “Show me just what Muhammad brought that was new and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached.”

Kita juga masih ingat rasanya kasus kartun Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh surat kabar Denmark, Jyllands-Posten. Yang tahun ini terjadi, pendeta Wayne Sapp membakar salinan Al-Quran di sebuah gereja kecil di Florida. Aksinya itu dilakukan di bawah pengawasan pendeta radikal Terry Jones, yang mengaggas “Hari Internasional Membakar Al-Quran”. Belum lagi kasus-kasus larangan jilbab dan diskriminasi terhadap Muslimah di negara-negara Eropa. Dan masih banyak lagi contoh kasus-kasus islamofobia yang ada di Barat.

Itu di Barat. Sekarang di negara kita Indonesia sendiri, aroma islamofobia juga sudah terasa jelas. Rentetan kasus bom dan berbagai aksi yang menjurus kepada terorisme sudah sangat membuat masyarakat resah. Parahnya, aksi itu dilakukan dengan membawa embel-embel Islam. Ini tentu saja semakin menyudutkan umat Islam itu sendiri. Berbagai macam dan bentuk aksi kekerasan yang dilakukan segolongan umat Islam juga turut andil dalam berkembangnya islamofobia, baik oleh orang non Muslim, maupun oleh umat Islam sendiri. Maksudnya, bukan berarti umat Islam takut dengan agamnya sendiri, melainkan menimbulkan sebuah keambiguan dalam pandangan masyarakat terhadap agama Islam.

Dalam sebuah seminar bertema “Confronting Islamophobia: Education for Tolerance and Understanding” di New York pada tanggal 7 Desember 2004 silam, Sekjen PBB Kofi Annan mengatakan, “Efforts to combat Islamophobia must also contend with the question of terrorism and violence carried out in the name of Islam.  Islam should not be judged by the acts of extremists who deliberately target and kill civilians.  The few give a bad name to the many, and this is unfair.  All of us must condemn those who carry out such morally reprehensible acts, which no cause can justify.  Muslims themselves, especially, should speak out, as so many did following the 11 September attacks on the United States, and show a commitment to isolate those who preach or practice violence and to make it clear that these are unacceptable distortions of Islam.”

Ada benarnya apa yang dikatakan Kofi Annan di atas. Memang selama ini islamofobia selalu diidentikkan dengan terorisme dan kekerasan. Padahal, ini adalah distorsi terhadap ajaran Islam yang benar. Dan untuk dapat memerangi islamofobia serta mengembalikan citra Islam sebagai agama yang damai, adalah tugas utama bagi umat Islam sendiri.

Tantangan dakwah Islam
Walau bagaimanapun, islamofobia adalah satu dari faktor besar yang menjadi tantangan dakwah saat ini. Medakwahkan Islam yang telah tercoreng citranya, tentu saja sangat berbeda dengan mendakwahkan Islam saat Golden Age dulu. Untuk membalik persepsi orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang terbelakang, tradisional, kolot, ekstrem, teroris dan berbagai macam pencitraan buruk lainnya, tidak mudah dilakukan. Ada sekelompok orang yang berusaha melakukan hal itu, tapi ternyata jurang pluralisme agama justru menghadang mereka. Bisa dibilang mereka kebablasan, sehingga terlalu terbawa oleh arus pemahaman toleransi yang justru intolerir.

Seperti yang dikatakan oleh Syeikh Muhammad Hassan dalam bukunya Khawatir ‘ala Thariq ad-Da’wah, musuh Islam itu ada yang datang dari luar, dan ada yang datang dari dalam. Maka begitu juga tantangan dakwah, dari luar Islam dan dari dalam. Sebagai contoh musuh atau tantangan Islam yang dari dalam adalah, sekularisasi besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk di Turki pada tahun 1922.

Ataturk telah memisahkan hubungan antara agama dengan negara. Sistem kekhalifahan yang saat itu dipegang oleh Khilafah Utsmaniyah oleh Sultan Abdul Hamid telah dihapuskan. Konstitusi Utsmaniyah yang berlandaskan Islam diganti dengan konstitusi sipil. Tidak hanya itu, bahkan pada tahun 1925 Ataturk mengeluarkan undang-undang penghapusan pakaian-pakaian keislaman seperti jilbab, dan menggantinya dengan gaya pakaian di Barat. Pengucapan “Assalamu’alaikum…” juga diganti dengan pengucapan salam seperti yang ada di Barat. Lebih ekstrim lagi, pada tahun 1928, dikeluarkan undang-undang yang melarang pengajaran ilmu-ilmu syari’ah Islam. Adzan yang berbahasa Arab juga diganti dengan bahasa Turki. Hak perempuan dan laki-laki dalam pembagian warisan disamakan. Peraturan yang memperbolehkan poligami juga dihapuskan.

Berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Ataturk terhadap Turki dan Islam tersebut, kemudian Syeikh Muhammad Hassan menyematkan gelar “penghianat” terhadap agamanya dan umatnya.

Sekarang, di tengah era globalisasi seperti ini, tentu saja Islam tidak bisa terus menerus statis. Jika Islam tetap statis, dapat ditafsirkan bahwa ternyata Islam tidak sesuai dengan zaman atau rahmatan lil ‘alamin. Islam tengah berada di zaman modern, maka Islam juga harus bisa modern. Akan tetapi makna tidak statis atau berubah di sini, bukan berarti selalu berubah sesuai dengan keinginan zaman hingga mencakup semua ranah dalam Islam, seperti yang telah dilakukan Kemal Ataturk. Untuk itulah dalam Islam itu ada konsep tsawabit wal mutagayyirat.

Untuk bisa sesuai dengan zaman dan turut menjadi modern, maka tentu saja umat Islam harus membuka matanya, lalu bersikap terbuka. Sikap ketertutupan hanya akan membuat umat Islam terus jalan di tempat tanpa kemajuan, karena tidak mau belajar dari peradaban lain yang lebih maju. Selain itu ketertutupan juga hanya akan menimbulkan kecurigaan dari luar, yang ujung-ujungnya hanya akan memperburuk islamofobia.

Mengambil pelajaran dari kemajuan intelektual di zaman Buwaihiyyah, Joel L. Kraemer, Profesor Sejarah dan Pemikiran Sosial Universitas Chicago menggambarkan bahwa masyarakat Islam ketika itu adalah masyarakat yang humanis. Tujuan dari humanisme ini adalah untuk menghidupkan kembali warisan filsafat kuno sebagai pembentuk pikiran dan karakter. Namun berbeda dengan kaum humanis zaman Renaisans di Barat, kaum humanis Muslim tidak menolak pelbagai cabang filsafat yang patut dipelajari. Daripada mengekang diri, kaum humanis Muslim ketika itu lebih memilih sifaf selektif dalam menggali warisan zaman kuno.

Kraemer mengistilahkan zaman Buwaihiyyah ini dengan Renaissance of Islam, dalam bukunya Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival during the Buyid Age. Meski ia sendiri sebenarnya masih memperdebatkan pengistilahan renaisans terhadap Islam tersebut. Istilah renaissanca of Islam pertama kali dipakai oleh Adam Mez dalam bukunya yang berjudul Die Renaissance des Islams, pada abad ke-10 M. Namun, menurut Kraemer, sayangnya Mez tidak menjelaskan alasan-alasan digunakannya istilah Barat “renaisans” untuk fenomena non-Barat. Namun terlepas dari pengistilahan renaisans itu, yang jelas Islam pada zaman itu telah mengalami kemajuan dalam bidang intelektual.

Sikap keterbukaan yang telah dipraktekkan umat Islam pada zaman itu ternyata telah mampu membawa citra Islam menjadi baik di mata sarjana Barat. Sarjana Barat telah meneliti proses kemajuan-kemajuan yang dicapai umat Islam tersebut, meski tentu saja dengan kaca mata mereka. Paling tidak, Islam ketika itu telah digambarkan sebagai peradaban yang maju.

Ini tentu saja sangat berbeda dengan citra Islam pasca 11 September 2001. Jika sampai detik ini cara dakwah yang ekstrem masih selalu mewarnai umat Islam, maka pencitraan yang buruk akan Islam susah untuk dihapuskan. Namun jika Islam juga terlalu berlebihan diliberalkan dan disekulerkan, maka tidak menutup kemungkinan juga nilai-nilai pokok ajaran Islam bisa menjadi kabur. Untuk itulah di sini sangat dibutuhkan kemoderatan dalam mendakwahkan Islam.

Menurut penulis, langkah yang mungkin harus dilakukan dalam upaya mencapai dakwah yang moderat ini adalah penanaman konsep pandangan hidup Islam terlebih dahulu. Konsep hidup Islam yang sudah syamil ini nantinya akan menjadi alat untuk melakukan proses filterisasi terhadap pandangan hidup luar, atau pandangan hidup dari dalam Islam sendiri namun telah melenceng. Kita tidak lagi harus silau dengan kemajuan yang telah Barat capai. Kita juga tidak perlu membalas Islamofobia yang ada di Barat dengan fobia kepada Barat. Konsep toleransi agama yang ditawarkan Barat juga nantinya bisa kita pertimbangkan lagi secara matang, tanpa harus terjerumus ke dalam pluralisme kebenaran. Kita juga bisa menunjukkan bahwa Islam itu justru adalah agama yang sangat toleran terhadap pluralitas, bukan agama yang ekstrem dan menyukai kekerasan.

Selanjutnya, bukan hanya kajian-kajian literatur keislaman saja yang harus ditingkatkan, namun kajian literatur non-keislaman juga perlu dikembangkan. Kita tidak bisa memelihara tanaman hias hanya dengan menanamnya di pekarangan rumah begitu saja, tanpa memperhatikan jenis tanah, kelembapan udaranya, dan lain sebagainya. Begitu juga untuk bisa menempatkan Islam beserta dakwahnya di zaman sekarang ini, tidak bisa dengan menutup sebelah mata. Misalnya, ada sisi psikologi masyarakat yang harus diperhatikan dalam dakwah.

Untuk dapat menghilangkan islamofobia, tentunya kita harus beranjak dari faktor penyebab munculnya ketakutan akan Islam itu sendiri. Jika faktor penyebab tersebut adalah distorsi terhadap Islam dan citranya, maka tentu saja ini masih bisa diperbaiki melalui dakwah yang moderat itu tadi. Dakwah yang kita lakukan tidak perlu lagi dengan ekstrem dan kekerasan, namun lebih kepada pendekatan-pendekatan nilai. Akan tetapi jika faktor penyebab islamofobia itu adalah suatu kebencian yang sudah mengakar di dalam hati orang-orang kafir, maka hal ini sudah masuk ke dalam ranah “wa lan tardho ‘anka al-yahud wa la an-nashoro hatta tattabi’a millatahum.” Wallahu’alam.[]

Sunday, September 30, 2012

Menyikapi “Innocence Of Moslems”


Oleh: Kurniawan Saputra

Kasus “Innocence Of Moslems”

Umat Islam kembali heboh, untuk ke sekian kalinya muncul sebuah film yang mendiskreditkan Islam. Pada tahun 2008, Geert Wilders, politisi Belanda, pernah menyulut emosi umat Muslim dengan membuat film pendek berjudul “Fitna”. Film itu berisi tentang perspektif kontroversial Wilders mengenai Islam dan al-Qur’an. Belum lama ini film anti Islam kembali muncul, kali ini berjudul “Innocence of Muslims”. Film  yang disutradarai oleh Nacoula Basseley itu menjelek-jelekkan Islam pada umumnya dan Nabi Muhammad SAW khususnya.

Film tersebut memancing reaksi beragam. Dari sekedar ungkapan unjuk rasa, protes, hingga tindakan ekstrem. Di Kairo dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, kantor kedutaan AS disambangi pengunjuk rasa. Bahkan di negara yang baru saja terjadi perang saudara, Libya, duta besar AS beserta tiga warga AS lainnya tewas karena serangan bom. Protes juga terjadi kemudian menjalar ke negara-negara Islam lain. Bahkan di negara mayoritas non Muslim pun terjadi aksi demonstrasi berkenaan dengan film ini.

Lumrah jika emosi umat muslim tersulut menyaksikan penghinaan terang-terangan kepada Nabi Muhammad SAW ini. Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi Muslimin, terjaga dari segala macam kesalahan dan dosa. Bukan itu saja, Nabi Muhammad SAW menurut banyak versi – bahkan menurut versi Barat-, juga menjadi orang paling sukses/berpengaruh/besar yang pernah hidup di muka bumi ini. Allahumma shalli alaihi wa sallim!

Kebesaran pribadi Nabi Muhammad SAW telah diakui oleh dunia luas melalui fakta sejarah. Kalangan yang sudi melihat secara obyektif pasti menemukan kekaguman kepada khâtim al-rusuli itu. Nabi Muhammad SAW bukan saja sukses besar menyampaikan dakwah Islam, namun lebih dari itu, Nabi Muhammad menjadi contoh bagi sebuah kepribadian agung.

Keagungan Pribadi Rasulullah SAW

Dari tradisi Islam sendiri, banyak riwayat-riwayat yang menceritakan keagungan pribadi beliau SAW. Diantaranya adalah kisah Nabi Muhammad SAW dengan seorang pengemis Yahudi.

Alkisah, di jalan menuju Masjid di kota Madinah, hiduplah seorang pengemis Yahudi yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Saking bencinya, si pengemis mencaci maki beliau SAW setiap hari, juga memperingati setiap orang agar tidak mendekati Muhammad SAW.

Pengemis itu buta sehingga kesulitan untuk menjalani hidup. Kehidupan pengemis yang sulit itu amat terbantu dengan kehadiran seseorang. Dia mengunjungi tempat pengemis itu berada setiap hari dan membantunya makan. Dan tentu orang misterius itu juga sudah sangat kenyang mendengar caci maki yang keluar dari mulut pengemis kepada Nabi Muhammad SAW. Dan orang itu adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.

Suatu ketika, setelah Nabi Muhammad SAW meninggal, Abu Bakar RA menggantikan posisinya. Abu Bakar RA mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?" Abu Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan ! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku," pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Ada lagi riwayat mengenai hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif. Rasulullah SAW datang menghadap para pemuka Thaif dan mengajak mereka masuk Islam. Namun, ajakan damai itu ditolak mentah-mentah. Para pemuka Thaif malah mengerahkan para penjahat dan budak untuk mecaci-maki Rasulullah dan melempari dengan batu. Sehingga kaki Rasulullah mengalami cidera.

Kemudian kisah tanggalnya gigi Rasulullah SAW dalam perang Uhud. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mendapatkan luka pada perang Uhud, para sahabat lantas berkata: Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Allah untuk menghukum kaumnya, mengapa Engkau tidak berdoa kepada Allah untuk hal itu. Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mencela, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan menyebarkan kasih sayang. Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti.”

Dalam sebuah hadis Muttafaq ‘alaih, juga terdapat riwayat mengenai kebesaran jiwa Rasulullah SAW dalam menghadapi caci maki dan permusuhan para musuh. Hadis itu –kurang lebih- bermakna berikut:

Aisyah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Rasulullah melanjutkan, kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.“ Jawab Rasulullah, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyambah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“ (HR. Bukhari Muslim).

Dari riwayat-riwayat di atas kita menyaksikan bersama bagaimana Rasulullah SAW menghadapi caci maki, celaan, bahkan gangguan fisik dengan sabar. Bahkan para Sahabat yang notabenenya orang-orang terdekat dengan beliau pun tak kuasa lagi menahan diri dari cobaan tersebut. Beberapa dari mereka (Sahabat) bahkan sampai meminta Rasulullah SAW untuk berdoa kepada Allah SWT agar membalas kesemena-menaan kaum musyrikin. Seperti yang pernah dilakukan para nabi sebelumnya. Namun, Rasulullah SAW menolaknya dan menunjukkan teladan bagaimana seharusnya bersikap.

Sikap Kita Seharusnya

Rasulullah SAW telah memberikan teladan. Beliau yang menjadi obyek langsung dari caci maki menyikapinya dengan sabar dan maaf. Sudah seharusnya kita sebagai umatnya meneladaninya. Menyikapi celaan dengan lapang dada dan sikap positif, bukan malah bertindak onar dan berbuat kerusakan. Karena sikap anarkis dalam menyikapi film ini malah membuat pihak-pihak yang tak suka dengan Islam merasa memiliki legitimasi untuk mendiskreditkan Islam.

Apalagi film ini – Innocence of Muslims- hanyalah upaya amatir dari pihak yang punya rekam jejak sosial buruk. Pemrakarsa film sekaligus sutradaranya, Nakoula Basseley, tercatat beberapa kali melakukan tindak pidana. Bahkan skenario film ini ditulis dari balik jeruji besi. Dalam upayanya, Basseley mengidentifikasi dirinya kepada wartawan dan sebagai seorang warga Yahudi Israel bernama Sam Bacile, dan mengakui bahwa ia mengumpulkan dana sebesar $5 juta dari teman-teman Yahudi. Namun kemudian diketahui ketidakbenaran klaim tersebut. Basseley adalah seorang Kristen koptik dan mendapatkan dana pembuatan film dari keluarga istrinya di Mesir.

Dengan terbukanya kebohongan Basseley, tersingkap pula bahwa film tersebut juga merupakan upaya adu domba antara Islam dengan umat lainnya –terutama Yahudi dan Amerika Serikat-. Maka, tindakan merusak kedutaan AS atau menyerang warga negara AS denga dalih film tersebut tidak bisa dibenarkan.

Lagipula, kita semua dan dunia masih punya ingatan kuat tentang keagungan Rasulullah SAW. Semua itu tak akan terkikis dengan munculnya film yang melecehkan tersebut. Keagungan Rasulullah SAW tak akan lekang hingga akhir zaman karena keagungan Rasulullah adalah anugrah dari Allah SWT (isthafâ’). Wallahu a’lam.

Friday, September 21, 2012

Penghinaan Simbol dan Sakralitas Islam


Oleh: Ahmad Sadzali

Penghinaan terhadap umat Islam terulang kembali. Kali ini melalui film bertajuk “Innocence of Muslims” yang menghina Nabi Muhammad SAW. Menurut pengakuan penulis dan sutradara film, Sam Bacile, kepada kantor berita AP dari tempat yang rahasia, film tersebut menghabiskan kocak senilai lima juta dolar Amerika (sekitar 50 miliar rupiah). Biaya tersebut di antaranya ditanggung oleh lebih dari 100 donatur Yahudi.

Terang saja film yang diproduksi di Amerika Serikat itu menuai kecaman kerasa dari seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia. Di Mesir dan Libya misalkan, para demonstran yang menentang keras penghinaan Nabi Muhammad SAW dalam film itu melakukan aksinya di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bahkan, Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya, Christopher Stevens harus menjadi korban akibat serangan demonstran Libya sebagai respon atas film tersebut. Dia tewas di kantor Konsulat Amerika Serikat, di Benghazi.

Penghinaan terhadap umat Islam ini tentu bukan kali ini saja terjadi. Mulai dari pembakaran mushaf al-Quran, penghancuran masjid-masjid, karikatur hingga penginaan secara terang-terangan kepada Nabi Muhammad SAW sudah berulang kali terjadi. 

Bahkan jika kita mau kembali kepada sejarah dakwah Islam, penghinaan terhadap Rasulullah SAW pun terjadi semasa hidup beliau oleh kaum kafir Quraish. Misalkan, tempat-tempat yang biasa disinggahi Rasul seringkali dilempari kotoran oleh orang-orang kafir. Ummu Jamil, istri Abu Lahab, melemparkan najis ke depan rumah beliau, dan Rasulullah hanya menanggapinya dengan membersihkan kotoran-kotoran itu. Begitu juga Abu Jahal melempari beliau dengan kotoran kambing yang telah disembelih untuk sesembahan berhala. Beliaupun hanya menghadapi kekejian itu dengan pergi ke rumah putrinya Fatimah, untuk membersihkan dan menyucinya.

Tidak hanya sampai di situ, kaum kafir juga melemparkan berbagai macam tuduhan, fitnah dan propaganda kepada Rasulullah SAW. Fitnah dan propaganda tersebut juga ditujukan untuk menyerang akidah Islam dan kaum Muslimin. Berbagai macam kebohongan dan fitnah disiapkan oleh kaum kafir untuk menyerang Rasulullah SAW. Sekelompok orang dari kaum kafir misalkan, berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. 
Di rumah Walid itu mereka memusyawarakhkan propaganda apa yang akan dilemparkan kepada Rasulullah SAW ketika orang-orang Arab datang ke Makkah di musim haji. Ada yang mengusulkan agar Rasulullah SAW dicap sebagai dukun, namun ditolak oleh Walid sendiri. Ada lagi yang mengusulkan agara Rasulullah SAW dituduh sebagai orang gila, namun Walid juga menolak. Ada juga yang mengusulkan agar Rasulullah SAW dituduh sebagai tukang sihir, namun juga ditolak oleh Walid, karena Rasulullah SAW tidak pernah membacakan mantera-mantera sihir. Setelah melalui perdebatan, akhirnya mereka sepakat menuduh Rasulullah SAW sebagai seorang penyihir perantara ucapan. Tuduhan ini akhirnya disebarkan kepada rombongan haji yang datang ke Makkah.

Dari sini, garis besar yang dapat kita ambil adalah berbagai penghinaan yang dialami oleh Rasulullah SAW tersebut, ternyata tidak mengurangi semangat dan kesabaran beliau dalam mendakwahkan Islam. Begitu juga dengan kemuliaan dan keagungan Rasulullah SAW dan Islam tidak berkurang sedikit pun. Bahkan hingga saat ini Islam semakin berkembang, dan pengikutnya semakin bertambah.

Lantas jika demikian, apa yang sebenarnya mendasari kemarahan umat Islam atas film penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW tersebut? Hal ini perlu kita pahami agar tidak menimbulkan reaksi yang berlebihan dari umat Islam. Aksi pengeboman kantor Konsulat Amerika Serikat di Benghazi oleh demonstran Libya hingga menewaskan Dubes Amerika itu adalah salah satu contoh reaksi yang berlebihan.

Oleh karena itu jugalah, Itihad Ulama Internasional yang diketuai oleh Dr. Yusuf Qardhawi menghimbau kepada seluruh umat Islam agar tidak menggeneralisir kasus ini, sehingga menghukum dan menyalahkan orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Begitu juga dengan Dewan Kibar Ulama Al-Azhar, menyerukan agar umat Islam menyikapi kasus penghinaan ini dengan bijak.

Jika reaksi yang timbul dari umat Islam justru bersifat negatif dan mendatangkan pengrusakan, maka sebenarnya perbuatan itu hanya akan semakin membuat citra umat Islam jelek di mata non-Islam. Padahal Islam sama sekali tidak mengajarkan nilai-nilai kekerasan seperti itu, justru Islam adalah agama yang menjunjung keadilan dan perdamaian. Apa yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi ketika membuka Yerussalem, dan yang dilakukan oleh Mahmud Al-Fatih ketika membuka Konstantinopel adalah contoh ajaran Islam yang adil. Kedua panglima Islam ini sama sekali tidak menghukum dan menyakiti rakyat biasa di negara yang ditaklukkan itu, bahkan justru melindungi hak-hak mereka untuk menjalankan agama mereka.

Kemarahan umat Islam atas film yang menghina Nabi mereka itu memang wajar. Kita wajib menjunjung tinggi dan menjaga martabat, simbol dan sakralitas dalam agama kita. Penghinaan terhadap agama memang tidak bisa dibenarkan, karena merupakan pelanggaran atas hak-hak umat beragama. Ini merupakan pelanggaran hukum. Namun pelanggaran hukum seperti ini juga seharunya ditempuh lewat jalur hukum juga. Bukan malah tindakan radikal yang membabi buta.

Jelas, dari sudut pandang manapun, pembuatan film tersebut tidak dapat dibenarkan. Bukan hanya umat Islam yang mengecamnya, negara-negara Barat pun juga mengecamnya, termasuk Vatikan sebagai basis umat Kristen Katolik di dunia. Salah satu syarat utama untuk dapat hidup berdampingan antar umat beragama dengan rukun adalah saling menghormati nilai-nilai, simbol dan sakralitas agama masing-masing. Pembuat film ini tentu telah melanggar syarat ini.

Namun yang perlu kita jaga adalah cara kita menyikapi dan merespon film tersebut. Reaksi yang timbul dari kita yang sebenarnya ingin membela Nabi Muhammad SAW seharunya tidak dengan cara-cara yang justru menodai ajaran beliau. Jangan sampai sesuatu yang baik itu ditempuh dengan jalan yang salah. Wallahu’alam.[]


Monday, September 17, 2012

Bhinneka versus Kolonialisme-Liberalisme


Oleh: Ahmad Sadzali

Sudah menjadi maklumat umum bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi. Baik itu keberagaman suku bangsa, bahasa, adat istiadat, norma masyarakat, bahkan sampai watak dan karakteristik setiap penduduknya.

Indonesia memiliki 17.667 buah pulau, baik besar maupun kecil. Sebagian besarnya adalah perairan, sedangkan luas wilayah daratannya hanya 735.000 mil persegi (seluas Alaska). Di sekian banyak pulau yang ditempati penduduk Indonesia tersebut, terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang sangat berbeda. Dan sistem sosialnya juga berbeda-beda, dari desa-desa kecil yang terpencil sampai kepada kota-kota metropolitan yang besar dan maju. Maka wajar saja kalau negara kita ini memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beraneka ragam namun satu jua.

Semboyan ini sesungguhnya sudah sangat mewakili gambaran masyarakat Indonesia. Meski keberagaman itu banyak sekali, namun semuanya itu masih tetap berada di bawah satu atap, yaitu negara Republik Indonesia. Keragaman yang ada bukanlah suatu hambatan bagi masyarakat Indonesia untuk bersosial dan berinteraksi. Ketika semboyan ini diserukan, seketika itu juga jiwa persatuan itu tumbuh.

Akan tetapi permasalahannya tidak hanya sampai di situ saja. Ternyata di balik semboyan ini juga tersirat suatu peringatan yang penting bagi masyarakat Indonesia agar selalu menjaga integritas bangsa. Dengan kata lain, sebenarnya semboyan tersebut sangatlah sensitif terhadapat keutuhan tanah air. Jika keberagaman tersebut tidak dapat dijembatani dengan baik, maka dengan mudahnya masyarakat Indonesia akan pecah. Terbukti dengan kasus bercerainya Timor Timur dari NKRI, adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), perang suku yang terjadi di Sambas antara suku Dayak dan Madura, kericuhan antara umat Islam dan Kristen di Poso, dan lain sebagainya.

Tentu saja ini menjadi catatan dan perhatian yang serius bagi kita semua. Keutuhan NKRI bagaimanapun juga harus tetap dijaga dan dipertahankan. Namun bukan berarti untuk mempertahankannya itu, kita harus mengorbankan keberagaman yang ada. Bukan berarti juga keberagaman itu yang menjadi sebab utama perpecahan yang ada. Karena keberagaman yang ada memang sudah menjadi sunnatullah. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut, bisa menjadikan rahmat bagi umat.

Sekarang keberagaman yang ada di Indoneisa, khususnya keberagaman budaya, tengah menghadapi ujian yang cukup besar. Ujian itu datang melalui arus yang diberi nama dengan liberalisasi. Arus ini seolah menawarkan solusi yang tepat untuk mengatasi keberagaman tersebut. Kebebasan menjadi alternatif persamaan atas perbedaan. Sebab inilah mengapa liberalisasi itu dikatakan sebagai ujian bagi keberagaman Indonesia.

Bahkan liberalisasi tidak hanya sebagai ujian saja bagi kebhinekaan nusatara, namun lebih dari itu ia juga menjadi penghianat bagi kultur budaya Indonesia. Liberalisasi telah menjadi musuh dalam selimut bangsa. Salah satu buktinya adalah ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dilayangkan, banyak para liberalis yang mengatasnamakan keberagaman budaya untuk menolaknya.

Gesekan budaya Indonesia dengan budaya Barat sudah sejak lama muncul. Yaitu ketika mulai masuknya kolonial bangsa Barat ke Indonesia. Bangsa Barat ketika menjajah Indonesia, tentu saja tidak hanya karena rempah-rempah atau kekayaan alam Indonesia belaka. Di samping itu juga terdapat visi lain, yaitu penyebaran ajaran kepercayaan dan kebudayaan Barat.

Orang Indonesia yang hidup di zaman kolonial ini tentu sangat merasakan bagaimana gesekan budaya pribumi dengan budaya Barat itu terjadi. Dengan kekuasaannya, Barat sangat mudah memaksakan budaya dan pemikirannya kepada masyarakat Indonesia. Hasilnya adalah modernisasi adat dan budaya itu sendiri.

Tapi yang seharusnya menjadi pertanyaan mendasar bagi kita adalah, apakah cocok budaya dan pemikiran Barat itu jika diterapkan pada masyarakat Indonesia?

Pada dasarnya kultur Barat dan Indonesia sangat berbeda. Kultur Barat dengan kapitalismenya memiliki sifat seperti berikut; adanya minat yang tinggi terhadap hal yang baru, adanya semangat berpetualang dalam mengusahakan hal-hal yang baru tersebut, tingginya individualisme dalam masyarakat Barat, dan pengagungan kepada materi. Sifat seperti ini tidak mudah untuk ditanamkan di tempat lain. Ibarat suatu bibit tanaman, maka sifat-sifat yang ada pada Barat ini membutuhkan lahan yang sesuai dengannya, agar ia bisa tumbuh subur.

Agar lahan itu cocok dengan bibitnya, maka setidaknya ada persyaratan yang harus dimiliki. Salah satu syarat untuk lahan tersebut adalah, adanya suatu suatu kelas yang kuat dari kaum urban yang terdiri dari orang-orang yang relatif bebas serta mandiri. Namun sayangnya Indonesia belum memiliki kelas seperti itu. Seperti realita sekarang, di Indonesia masih memiliki keragaman sosial. Konsep pemerintahan yang menjadi faktanya. Ada pemerintahan kota, ada juga pemerintahan desa. Dan keragaman seperti ini telah melekat dengan budaya Indonesia, serta masuk dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu bukti untuk menguatkan statement ini, kebijaksanaan kolonial Belanda di bidang perdagangan pada abad ke-17 dan ke-18, bahkan di abad ke-19, hanya mampu membawa sedikit perubahan di bidang kehidupan ekonomi.  Kebijakan ekonomi Belanda ternyata tidak mampu mengubah struktur sosial masyarakat Indonesia secara berarti.

Sekiranya ini sudah cukup untuk membuktikan kalau budaya pemikiran Barat itu tidak cocok jika diterapkan di Indonesia. Negara ini bukan lahan yang pantas bagi bibit-bibit Barat seperti liberalisme. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kultur Barat dan Indonesia, yang menyebabkan ketidakcocokan itu.

Selanjutnya, ada catatan penting yang harus disampaikan di sini. Kolonialisme Barat ternyata masih belum berakhir. Sampai sekarang gaungnya masih dapat didengarkan, meskipun masih sayup-sayup. Jika dulu kolonialisme adalah dengan cara pendudukan pemerintahan dan mengambil segala kekayaan alam yang ada di Indonesia, namun sekarang gerakan kolonialisme itu berbentuk ekspansi pemikiran Barat ke dalam masyarakat kita. Akan tetapi tujuan utama dari kolonialisme kuno dan sekarang tetap sama, yaitu menguasai negara dan dunia. Jika itu di Indonesia, niscaya ia akan mengusai Indonesia.

Maka di sinilah letaknya peranan kebudayaan beragam Indonesia dalam membasmi bibit-bibit Barat yang kolonialis dan liberalis. Keragaman budaya ini jangan mau dirasuki begitu saja oleh paham-paham seperti ini. Konsep pemikiran Barat seperti liberalisme itu bukan malah menjadi perantara untuk menjembatani kebhinnekaan Indonesia, akan tetapi justru menjadi bumerang yang nantinya menimbulkan kekacauan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Wallahu’alam.[]

Menyikapi Perbedaan Dalam Perspektif Historis


Oleh: Ahmad Sadzali

Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Salah satunya adalah isu perbedaan yang sekarang ini -bagi sebagian besar kita- masih belum dapat menyikapinya dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri lagi, banyaknya berbagai golongan dan bahkan aliran yang ada dalam tubuh Islam sekarang ini memicu kontroversi tersendiri di kalangan kita, khususnya umat Islam di Indonesia. Tengok saja perdebatan yang sering terjadi antara sesama Muslim. Satu golongan menyalahkan golongan yang lainnya. Satu kelompok merasa hanya kelomoknya sajalah yang paling benar.

Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang  harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini. Di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencobanya memberikan pencerahan berpikir dalam menanggapi itu semua dari perspektif sejarah.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Perbedaan itu merupakan hal yang lumrah adanya. Karena pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang diberikan Allah kepandaian dan kecerdasan yang baik dalam memahami ajaran agama Islam, namun ada juga yang tidak. Dari kalangan sahabat Rasulullah dulu, ada yang diberikan Allah hafalan yang kuat sehingga dapat menghafal wahyu Al-Qur’an dan hadist Rasulullah, ada juga yang hafalannya kurang.

Pada masa Rasulullah SAW, perbedaan pun juga sudah terjadi. Namun setiap perbedaan pendapat dan permasalahan umat yang muncul dapat langsung diselesaikan melalui beliau. Pada masa Rasulullah ini sumber utama ajaran Islam hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiah. Oleh karena itulah tidak ada masalah internal berarti yang dapat mewarnai kehidupan umat Islam ketika itu. Tentu saja ini salah satu kelebihan bagi umat yang hidup di zaman tersebut. Sehingga tidak salah lagi apabila generasi Sahabat tersebut diberi julukan generasi terbaik.

Selanjutnya ketika Rasulullah telah tiada, maka beberapa perbedaan di kalangan umat Islam ketika itu telah bermunculan. Mulai dari masalah pemerintahan, sampai akhirnya berujung kepada aliran keagamaan sendiri dalam Islam. Pada masa Sahabat ini, rujukan umat Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah Nabawiah, ijma’, dan ra’yu. Dua rujukan terakhir ini adalah salah satu bentuk untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada di kalangan Sahabat, selain adanya permasalahan yang baru muncul yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiah. Namun meskipun demikian, tentu saja yang menjadi rujukan utama dan landasan dari dua rujukan terakhir tetap Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiah.

Dakwah Islamiyah di masa Sahabat ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perluasan wilayah Islamiyah ini adalah salah satu faktor adanya beberapa perbedaan di kalangan Sahabat. Perbedaan adat dan kultur masyarakat dari tempat yang berbeda-beda itulah sebab utamanya. Kultur Arab yang sangat kental pada masyarakat Madinah berbeda dengan kultur masyarakat Iraq yang ketika itu masih terpengaruh dengan budaya Persia, dan berbeda juga dengan kulturnya masyarakat Mesir dan Syam yang masih menyimpan nilai-nilai budaya Romawi.

Namun perbedaan yang terjadi di antara Sahabat akibat dari faktor tersebut masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan umat Islam. Dan perbedaan yang terjadi ketika itu pun sangat sedikit sekali. Salah satu sebabnya  karena para Sahabat masih banyak yang berada di Madinah, khususnya di zaman Khalifah Abu Bakar ra dan Khalifah Umar ibn Khathab ra, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Pada masa Tabi’in, wilayah Islam semakin luas lagi. Tentu saja semakin beragam pula kultur umat Islam yang melatarbelakanginya. Maka wajar  ketika masa ini berkembang madrasah yang saling berbeda metode pengambilan hukumnya, khususnya dalam penggunaan ra’yu, yaitu Madrasah Ahlul Hadist di Madinah dan Madrasah Ahlul Ra’yi di Iraq. Salah satu faktor penyebab berkembangnya Madrasah Ahlul Hadist adalah pengaruh yang diterima Tabi’in dari para Sahabat seperti Zaid ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar. Sedangkan Madrasah Ahlul Ra’yi mendapat pengaruh dari Abdullah ibn Mas’ud yang telah lama bermukim di Kufah sejak zaman Khalifah Umar ibn Khathab ra.

Beranjak ke masa Tabi’ tabi’in, kajian ilmu Fikih dan berbagai cabang ilmu lainnya mencapai puncak kegemilangannya. Di mana pada masa inilah banyak ulama-ulama Mujtahid bermunculan. Sebagai contoh, munculnya berbagai macam mazhab Fikih. Tentu saja perbedaan dalam ijtihat lebih beraneka ragam lagi.

Perbedaan pendapat yang muncul dikalangan ulama terdahulu sebenarnya hanya berkisar pada masalah furu’iyah atau cabang-cabang fikih saja. Itu pun disebabkan metode yang mereka gunakan untuk mengambil hukum fikih tersebut berbeda-beda. Misalnya dalam menentukan suatu hukum yang belum ada dibahas dalam Al-Qur’an dan Hadist, Imam Malik mengedepankan perbuatan penduduk Madinah, karena menurut beliau segala sesuatu yang berkenaan dengan cara beribadah penduduk Madinah tidak mungkin kalau bukan hasil dari melihat perbuatan Rasulullah yang diturun-temurunkan generasi ke generasi. Berbeda dengan Imam Syafi’i yang lebih mengedepankan Ijma’ (kesepakatan para ulama) setelah Al-Qur’an dan Hadist.

Begitulah sekilas gambaran perjalanan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Intinya agama Islam itu satu, dan tidak ada berbagai macam jenis Islam yang lainnya. Sedangkan perbedaan pendapat dan golongan itu adalah bentuk dari pengembangan pemikiran Islam. Namun perlu digaris bawahi, bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya dalam ranah furu’iyah saja. Jika kemudia perbedaan yang berkembang justru menjurus kepada perbedaan akidah dan tauhid, maka tentu saja dalam hal ini kebenaran atau yang haq itu harus kita kedepandakan. Karena batasan dan rambu-rambu yang digambarkan Islam dalam wilayah tauhid dan akidah itu sudah sangat jelas.

Jika ada yang mencoba untuk merubah rukun Iman dan rukun Islam, maka ini harus kita perangi. Jika ada yang mengatakan Al-Qur’an hanyalah produk budaya, ini pun juga harus kita perangi. Jika ada yang memperbolehkan perkawinan homoseksual, pemikiran seperti ini jelas telah menyimpang dari koridor yang telah ditentukan Islam. Namun cara memeranginya pun juga harus baik. Jika kita diserang dengan pemikiran seperti itu, maka untuk membalasnya tentu saja juga dengan pemikiran juga, bukan malah dengan kekerasan.

Jika hal seperti ini yang terwujud di antara umat Islam di Indonesia sekarang ini, maka serasa indah Islam itu  dijalankan. Penilaian-penilaian negatif tentang Islam dan perpecahan, Islam dan kekerasan, hingga Islam dan terorisme, harus segera kita hentikan. Caranya yaitu dengan membangun kembali image Islam yang cinta damai, yang profesional dalam menanggapi segala perbedaan. Image itu akan tumbuh tergantung bagaimana kita menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Wallahu’alam.[]